Memerinci Cinta
Kelinci termasuk hewan vertebrata herbivora dengan empat tungkai kecil (sekitar 60 spesies) berbulu tebal, tanpa atau dengan ekor pendek dan tiga pasang gigi seri.
CINTA itu, kata Sisi, tidak akan pernah mencapai titik optimasi. Seberapa tinggi pun kau daki, ia seolah akan terus menanjak tanpa henti. Sedalam apa pun kau coba untuk selami, iapun akan terus menghilang sampai tak terlihat lagi.
Sebaliknya cinta itu pun bisa ternoda, terkotori, dan tercemari jika ia melampui batas, terjebak dalam konsep instan, dan harus berbalas, serta setiap akhir episodenya ditangisi dan disesali. Sebenarnya, masih menurut Sisi, hal itu adalah cerminan dari fitrah manusia, yang mana melampaui batas, tergesa-gesa, dan berkeluh kesah adalah keniscayaan yang senantiasa menyertai sistematika pengambilan keputusan.
Ketika Riri, adik Sisi kelinci, memutuskan untuk mencintai dirinya sendiri dengan makanan enak tiada henti dan tidak ada lagi sisa yang bisa dikonsumsi, ia tanpa ragu dan disertai dengan ketetapan hati, mencuri dan sebanyak mungkin dari ladang petani. Pada saat-saat paceklik datang, tak putus Riri berkeluh kesah menyesali diri. Menurut Riri, marah, kesal dan mengeluh adalah bagian dari ekspresi yang paling hakiki,
“Ini adalah ventilasi bagi jiwaku agar tidak kering kerontang karena terbakar kemarau kekecewaan. Tunggu saja pembalasannya. Saat rezeki menghampiri, ia akan kubanjiri dengan segala kosakata puja-puji setiap hari tiada henti.”
Riri memang berkembang menjadi kelinci yang jauh lebih kuat dari yang semestinya, sekaligus juga ia berkembang menjadi kelinci yang paling tidak sabaran dan mudah kelelahan. Hanya kejelekan yang terpetakan di dalam pikirannya.
Riri Kelinci lambat laun kehilangan teman, karena tidak ada satu pun temannya yang dapat dipertahankan. Hampir pasti tidak ada. Terutama jika alat untuk mempertahankannya adalah sekadar persamaan kepentingan dan faktor-faktor yang menguntungkan.
Lalu, jika keluh kesah yang terus membanjiri ladang pikiran, sudah tentu bibit-bibit pohon kekecewaanlah yang akan tumbuh subur dan mendominasi tanaman di dalam hati. Keluh kesah adalah pupuk yang paling subur bagi pokok-pokok pohon kecewa yang biasanya akan tumbuh tinggi dan semakin hari akan semakin rapat dedaunnannya sehingga akan menutupi cahaya matahari.
Jika cahaya matahari tidak sampai ke dasar ladang, rumput-rumputdan perdu syukur yang berbunga terima kasih akan mati. Layu dan merana karena tak lagi pernah dipandang, dinikmati, dan dipelihara. Riri Kelinci akan menjadi kelinci yang paling sering merasa putus asa. Terutama jika keluh kesahnya sudah sampai batas hingga tak ada lagi hal yang belum dilabeli sederet kata keluhan. Peristiwa itu akan sering terjadi karena keluhan adalah doa. Jika ia diharapkan akan terjadi, terjadilah.
Bagaimana degan Sisi? Bagi Sisi, biarlah cinta mengalir seperti anak sungai. Sesekali dibendung untuk mengairi ladang-ladang hati. Di ladang itu ditaburkan benih-benih syukur, lalu larutan cinta akan menggenanginya dan memberikan giizi yang menenangkan . Ketenangan itu terserap dan terbawa kesetiap pori-pori. Dari setiap pori-pori itu tumbuh jamur atau cendawan. Bukan penyakit tetapi cendawan tasbih.
Setiap pori yang teraliri larutan cinta akan bertasbih, mengumandangkan senandung-senandung cinta dari seorang hamba yang merindu. Setelah sungau cinta itu dibelokan untuk menghadirkan kerimbunan hutan syukur dan menumbuhkan cendawan buluh perindu, ia akan dialirkan kembali ke batang sungai yang dengan lurus akan berjalan terus menuju sebuah danau. Sebuah danau tempay semua cinta akan bermuara.
Tidak berlebih dan melampaui batas. Berproses dan melangkah sesuai dengan sistematika. Sabar dan pandai mensyukuri nikmat adalah ikhtiar agar perahu hati kita dapat didayung dengan tenang menghiliri sungai cinta sapai tiba di danau Sang Maha Pencinta.
Pendayung
PENDAYUNG yang tenang adalah pendayung yang mengerti hakikat cinta. Pendayung yang tenang adalah pendayung yang tahu kemana ia hendak menuju. Dan pendayung yang tenang adalah pendayung yang akan terus mendayung sebelum ia tiba dipelabuhan yang sesungguhnya. Ia tidak akan pernah menambatkan biduk hidupnya di sebuah dermaga kepalsuan.
Hikmah
Cinta adalah sebuah proses yang aneh. Jika kita ikhlas dalam mencintai dan berbagi, tak berhingga cinta akan datang menghampiri, bergelombang memenuhi hati. Namun sebaliknya, jika kita mencintai diri sendiri dan tidak ikhlas dalam berbagi, sampai kapan pun kita akan terus menerus merasa sendiri.
DIarsipkan di bawah: Fabel | yang berkaitan: Pendayung, berbagi, mencintai, arti cinta, definisi cinta, makna cinta, kelinci, pengorbanan, egoisme, egois