Badriafief adalah insprasi tentang seorang teman dkk, di sebuah pinggiran kota di Sumatera Selatan. Teman kecil ketika saya duduk dibangku kelas 4 SD. Badri, yang saya selalu berharap ia menjadi orang yang tangguh dan kuat dengan keberanian yang terasah oleh lingkungan yang juga begitu keras (menurut saya). Masih teringat bagaimana wajahnya yang selalu ceria dan mudah memberikan bantuan. Terbayang bagaimana kami bermain di rawa-rawa mencari, dan memancing ikan ’seluang’, ‘betok’ dan gabus. Bagaimana kami bermain, merambah semak belukar dan hutan, seperti dalam episode petualan cilik. Ia mengajarkan bagaimana caranya berenang dan menyelam di rawa yang hitam pekat (inilah pertama kali saya bisa berenang), meski harus mengikuti mitos memakan udang hidup-hidup agar mampu berenang. Berteduh di saung (bhs sunda) dan menangkap berbagai jenis burung di sawah dengan mudahnya. Bertengger di kebun rambutan sang kakek, memanjat pohon manggis, pohon dukuh serta menunggu durian runtuh karena angin atau sudah masak. Meski dengan ketakutan jika durian jatuh di atas kepala kami.
Menjadi burung, terbang, melayang, mengangkasa.
Menjadi anak-anak, riang tanpa duka.
Kini.., ketika pilihan begitu mudah dengan segala konsekuensi yang harus kita terima. Tidak perlu berfikir keras untuk menentukan pilihan apakah akan menjadi orang yang baik -meski kata ini sangatlah umum untuk dicerna, atau menjadi seorang durjana yang amatlah hina kita memandangnya. Dengan kata lain, kita perlu berfikir keras dan lama dan usaha yang gigih ketika akan menjadi hamba yang senantiasa dirindukan oleh Allah SWT.
Afief adalah sebuah harapan dan cita-cita agar ia selalu terpelihara dari setiap kata dan perbuatan buruk yang dilakukan diri atau orang lain. Maka dengan iffah yang menjadi pakaiannya. Semoga cita-cita ini menjadi harapan dirinya. Ketika tangan tidak sanggup untuk menahan diri mengambil hak orang lain, ketika lisan tidak mampu untuk menahan dari kata yang sia-sia dan menyakiti orang lain, ketika perut menjadi kepentingan utama atas ruh. Dan jiwa pun mati oleh tawa ria yang membahak, fitrah terkoyak oleh akal yang tidak sanggup lagi membedakan mana baik dan mana buruk. Ini bukan tentang ‘ia‘ yang saya sandangkan kata ini dibelakanngnya. Tapi sebuah harapan yang terbelenggu perasaan ‘nyaman’ dari pengawasan-Nya.
Semoga pada setiap desah nafas yang kita hirup adalah muatan dzikir dan syukur meski melakukannya adalah sesuatu hal yang sulit. Semoga pada setiap Sholat yang kita jalankan tercantum munajat “Ya Allah… Jadikan kami termasuk bagian orang-orang yang sholeh. Bersama para syuhada dan siddiqin”. Ya Allah… bantulah kami dalam berdzikir kepada-Mu dan bersyukut atas apa yang telah kami terima dari-Mu. Dan jadikan ibadah kami adalah ibadah yang terbaik untuk-Mu”
DIarsipkan di bawah: Suara Alam | Tagged: akal, fitrah, gigih, hamba, nyaman, pengawasan